Esai CCM · Mazmur 46:2
Ke Mana Mata Memandang Saat Kita Menderita
Penderitaan tidak pernah netral. Ia menarik mata kita ke masalah, ke hari esok, dan ke hidup orang lain. Injil memberi kita sesuatu yang lebih besar. · 7 menit baca

Ruang tunggu laboratorium di rumah sakit punya cara sendiri untuk mengecilkan dunia. Anda datang membawa banyak hal: pekerjaan yang ditinggal, anak yang harus dijemput, pesan yang belum dibalas. Lalu nama Anda dipanggil, darah diambil, dan setelah itu yang tersisa hanya satu angka merah di layar antrean dan satu amplop hasil yang belum dibuka. Selama empat puluh menit, seluruh hidup menyempit menjadi amplop itu.
Siapa pun yang pernah menunggu seperti itu tahu bahwa penderitaan tidak hanya menyakiti tubuh atau mengacaukan rencana. Ia juga mengguncang hati. Karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, satu hal perlu dikatakan dengan jelas: tulisan ini tidak meminta siapa pun berhenti menangis, berpura-pura kuat, atau segera menemukan pelajaran di balik luka. Menangis bukan tanda iman yang lemah. Pemazmur menangis, Ayub menangis, dan Yesus sendiri menangis.
Yang ingin dipikirkan di sini adalah sesuatu yang lebih halus. Penderitaan tidak pernah netral. Ia bisa membawa kita lebih dekat kepada Allah atau perlahan menjauhkan kita, dan sering kali arahnya ditentukan oleh hal yang tampak sepele: ke mana mata hati kita memandang. Paul David Tripp, dalam bukunya tentang penderitaan, memetakan beberapa jebakan yang hampir pasti kita temui ketika hidup sedang sakit. Tiga di antaranya layak direnungkan perlahan, karena ketiganya bekerja dengan cara yang sama: menarik pandangan kita ke tempat yang keliru.
Ketika Masalah Memenuhi Seluruh Pandangan
Jebakan pertama adalah soal kesadaran. Penderitaan membuat sesuatu menjadi sangat nyata. Rasa sakit di tubuh itu nyata. Email pemutusan kerja yang masuk pukul empat sore hari Jumat itu nyata, dan sejak itu pikiran tidak berhenti menghitung cicilan bulan depan. Kursi kosong di meja makan setelah pemakaman itu nyata.
Wajar bila masalah memenuhi pandangan. Itu manusiawi, dan Allah tidak menegur kita karenanya. Persoalannya muncul ketika kesadaran akan penderitaan tumbuh jauh lebih besar daripada kesadaran akan kehadiran Allah. Masalahnya membesar sampai Allah tampak kecil. Kita begitu sibuk meratapi apa yang hilang sehingga lupa apa yang sudah Kristus berikan. Semua pintu terasa tertutup, padahal tangan yang memegang hidup kita tidak pernah melepaskannya.
Pemazmur menulis:
Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.
Mazmur 46:2
Perhatikan apa yang tidak dikatakan pemazmur. Ia tidak berkata orang percaya kebal terhadap kesesakan. Ia berkata Allah terbukti hadir di dalamnya. Allah tidak selalu mengubah keadaan kita, tetapi Ia tidak pernah meninggalkan kita di dalam keadaan itu.
Injil memberi alasan mengapa kita bisa memercayai hal itu. Di kayu salib, Yesus tidak menonton penderitaan manusia dari kejauhan. Ia masuk ke dalamnya. Nabi Yesaya menggambarkan-Nya sebagai "seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan" (Yesaya 53:3), dan surat Ibrani menegaskan bahwa kita memiliki Imam Besar yang dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita (Ibrani 4:15). Ketika menderita, kita tidak datang kepada Allah yang hanya mengenal rasa sakit dari laporan. Kita datang kepada Kristus yang pernah merasakannya sendiri.
Kembali memandang Tuhan dalam keadaan seperti ini bukan berarti menyangkal masalah, atau berkata "tidak apa-apa" ketika kita jelas sedang terluka. Bentuknya bisa sesederhana doa yang jujur: Tuhan, ini sangat berat dan saya tidak mengerti semuanya. Tetapi ajari saya melihat bahwa penderitaan ini bukan identitas saya, dan bukan akhir cerita saya.
Hidup di Hari yang Belum Datang
Jebakan kedua bekerja pada pukul dua pagi. Rumah sudah sunyi, tetapi pikiran belum. Anda mengetik di ponsel gejala yang disebut dokter tadi siang, lalu membaca kemungkinan terburuk. Atau membuka aplikasi bank dan menghitung berapa bulan tabungan bisa bertahan tanpa pemasukan. Bagaimana kalau penyakitnya memburuk? Bagaimana kalau keluarga ini tidak pernah pulih? Bagaimana kalau saya akhirnya sendirian?
Kalimat "bagaimana kalau" adalah usaha untuk mengendalikan masa depan yang belum terjadi. Ironisnya, usaha itu justru menambah beban. Kita sudah menanggung penderitaan hari ini, lalu menumpukkan di atasnya penderitaan yang hanya ada dalam bayangan.
Yesus sangat realistis tentang hal ini. Ia berkata:
Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.
Matius 6:34
Ia tidak menjamin bahwa besok akan mudah. Ia justru mengakui bahwa besok punya kesusahannya. Yang Ia tolak adalah kebiasaan memikul beban besok dengan kekuatan hari ini. Ratapan 3:22-23 memperlihatkan sisi lain dari kebenaran yang sama: kasih setia Tuhan tak berkesudahan, dan rahmat-Nya selalu baru tiap pagi. Kasih karunia diberikan seperti manna di padang gurun, cukup untuk hari itu, dan tidak bisa ditimbun untuk minggu depan.
Hati kita ingin melihat seluruh peta sebelum melangkah. Tuhan lebih sering memberi terang untuk satu langkah berikutnya. Iman bukan mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan memercayai Pribadi yang memegang apa yang akan terjadi. Dan dasar untuk memercayai-Nya sudah diberikan. Roma 8:32 bertanya, "Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" Ayat ini bukan janji bahwa semua keinginan kita akan dipenuhi. Beberapa kalimat kemudian Paulus menyebut penindasan, kelaparan, dan bahaya, lalu menyimpulkan bahwa tidak satu pun darinya dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Itulah yang dijamin: bukan jalan yang mulus, melainkan kasih yang tidak akan dicabut.
Maka ketika pikiran mulai berputar tanpa arah, daftar ketakutan itu bisa diubah menjadi doa. Sebutkan satu per satu kepada Tuhan: takut kehilangan pekerjaan, takut pada hasil pemeriksaan, takut tentang masa depan hubungan ini. Kejujuran seperti itu bukan tanda kurang iman. Kita mungkin tidak tahu apa yang terjadi besok, tetapi kita tahu siapa yang bersama kita hari ini. Itu cukup untuk langkah berikutnya.
Kenapa Dia, Bukan Saya
Jebakan ketiga paling sulit diakui. Penderitaan menyakitkan bukan hanya karena apa yang kita alami, tetapi juga karena apa yang tidak dialami orang lain. Anda membuka Instagram dan melihat pengumuman kehamilan seorang teman, padahal Anda sudah mendoakan hal yang sama selama bertahun-tahun. Grup WhatsApp keluarga ramai dengan foto liburan, sementara rumah Anda sedang dingin oleh pertengkaran. Jempol tetap menekan tanda hati, tetapi rasanya berat.
Lalu muncul pertanyaan yang jarang diucapkan: kenapa dia, bukan saya? Di baliknya ada sesuatu yang lebih dalam. Kita mulai meragukan hikmat Allah. Tanpa pernah mengatakannya, hati berkata: Tuhan, kalau saya yang mengatur hidup saya, saya akan memilih jalan yang lain.
Roma 11:33 tidak menjawab dengan penjelasan, melainkan dengan kekaguman: "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!" Kita tidak akan pernah memahami seluruh jalan-Nya, tetapi ketidakpahaman kita tidak berarti Ia tidak punya tujuan. Ayub mengalami hal ini. Ia tidak pernah mendapat jawaban atas semua pertanyaannya. Yang ia dapatkan justru Allah sendiri: "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (Ayub 42:5). Kadang kita meminta penjelasan, dan Tuhan lebih dahulu memberikan diri-Nya.
Ada percakapan kecil di akhir Injil Yohanes yang menyentuh jebakan ini dengan sangat tepat. Yesus baru saja memberi tahu Petrus tentang jalan berat yang akan ia tempuh. Petrus segera menoleh kepada murid yang lain dan bertanya, "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" Jawaban Yesus lembut tetapi tegas:
Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.
Yohanes 21:22
Yesus tidak memarahi Petrus. Ia hanya memalingkan wajah Petrus kembali kepada diri-Nya.
Ke Mana Mata Diarahkan
Kalau direnungkan, ketiga jebakan ini berakar sama. Yang pertama berkata: lihat masalahmu. Yang kedua berkata: lihat apa yang mungkin terjadi. Yang ketiga berkata: lihat apa yang dimiliki orang lain. Injil tidak menyuruh kita memejamkan mata terhadap semua itu. Injil memberi kita sesuatu yang lebih besar untuk dipandang.
Pandanglah Kristus yang menangis di depan kubur Lazarus, padahal Ia tahu sebentar lagi sahabat-Nya itu akan bangkit. Pandanglah Dia di Getsemani, sangat takut dan gentar, berdoa dengan jujur sebelum berserah. Pandanglah Dia memikul salib, tempat yang oleh semua orang dianggap kekalahan, tetapi oleh Allah dipakai untuk menebus. Lalu pandanglah kubur yang kosong, tanda bahwa penderitaan dan kematian bukan kata terakhir.
Salib tidak menjadikan penderitaan kita setara dengan penderitaan Kristus, yang hanya dapat ditanggung oleh-Nya. Tetapi salib membuktikan satu hal: Allah sanggup bekerja melalui sesuatu yang tampak seperti kekalahan. Jika Ia melakukannya di Golgota, kita boleh percaya Ia sedang bekerja juga dalam penderitaan yang belum kita mengerti.
Injil tidak mengatakan penderitaan kita kecil atau air mata kita tidak penting. Injil mengatakan bahwa Kristus lebih besar. Injil juga tidak menuntut kita selalu kuat. Ia mengingatkan apa yang didengar Paulus ketika doanya tidak dijawab seperti yang ia minta:
Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.
2 Korintus 12:9
Keadaan kita bisa berubah. Tubuh, keuangan, relasi, dan rencana kita bisa berubah. Tetapi kasih Allah tidak berubah, dan Kristus tidak berubah. Karena itu kita boleh membawa amplop yang belum dibuka, angka di aplikasi bank, dan pertanyaan yang tidak berani diucapkan, lalu meletakkan semuanya di hadapan Dia. Kita tidak dipanggil untuk memandang dengan sempurna. Kita hanya diundang untuk mengangkat wajah sekali lagi, dan menemukan bahwa Ia sudah lebih dahulu memandang kita.
