Esai CCM · Kolose 3:15-16
Liturgi Anda Dimulai Pukul Enam Pagi
Sebelum Anda masuk gereja hari Minggu, ada tata ibadah lain yang sudah bekerja sejak alarm berbunyi. Pertanyaannya bukan apakah, melainkan milik siapa. · 7 menit baca

Pukul enam pagi, alarm berbunyi. Sebelum kaki menyentuh lantai, sebelum satu kata pun diucapkan kepada siapa pun, ibu jari sudah menemukan layar. Beranda, notifikasi, jumlah suka pada unggahan semalam. Seluruhnya berlangsung kurang dari sembilan puluh detik, dan besok akan terjadi lagi dengan urutan yang nyaris persis sama.
Itu sebuah liturgi. Kalau kalimat barusan terdengar berlebihan, tahan dulu keberatan Anda, karena justru di situ letak persoalannya.
Sebut kata "liturgi" di depan sekelompok orang Kristen muda di Jakarta, dan Anda akan melihat ekspresi yang sama berulang kali. Sopan, tetapi lelah. Kata itu terdengar seperti map plastik berisi susunan acara. Terdengar seperti berdiri, duduk, berdiri lagi, membaca responsoria dengan nada datar sementara pikiran sudah melayang ke rencana makan siang. Bagi banyak orang, liturgi adalah lawan dari spontanitas, dan spontanitas terasa jauh lebih rohani.
Keberatan itu tidak bodoh, dan tidak adil kalau kita menepisnya buru-buru. Ibadah memang bisa merosot menjadi kebiasaan yang mati. Para nabi sendiri pernah mengecam umat yang rajin datang tetapi hatinya jauh, jadi kritik semacam ini punya garis keturunan yang panjang dan terhormat. Siapa pun yang pernah menyanyikan tiga lagu berturut-turut tanpa satu pun katanya sampai ke kesadaran tahu bahwa keluhan ini berpijak pada sesuatu yang nyata. Kalau tata ibadah hanya berfungsi sebagai jadwal supaya acara selesai tepat pukul sepuluh, ia memang layak dipertanyakan.
Hanya saja, ada satu hal yang membuat pertanyaannya bergeser. Persoalannya bukan apakah Anda mau hidup dengan liturgi atau tanpa liturgi. Anda sudah punya satu. Ia sudah bekerja tadi pagi, pukul enam, sebelum Anda sempat memilihnya.
Liturgi yang Tidak Pernah Anda Pilih
Filsuf James K.A. Smith berargumen bahwa manusia bukan terutama makhluk yang berpikir, melainkan makhluk yang mencintai, dan bahwa apa yang kita cintai dibentuk bukan oleh informasi melainkan oleh kebiasaan yang diulang tanpa kita sadari. Kebiasaan-kebiasaan itu ia sebut liturgi kultural: ritual sehari-hari yang tidak pernah mengumumkan dirinya sebagai ajaran, tetapi tetap mengajari kita apa yang pantas dikejar.
Kembali ke pukul enam pagi tadi. Sembilan puluh detik itu bukan sekadar kebiasaan buruk soal manajemen waktu. Itu latihan harian yang singkat dan sangat efektif, dan yang diajarkannya adalah bahwa nilai Anda ditentukan oleh respons orang lain. Anda tidak pernah menyetujui pelajaran itu. Anda hanya mengulanginya tujuh ratus kali dalam dua tahun, selalu pada jam yang sama, selalu sebelum ada suara lain yang sempat berbicara lebih dulu.
Ada versi lain yang berlangsung setiap akhir pekan. Mal punya alurnya sendiri yang tertata rapi: eskalator yang membawa naik seperti prosesi, etalase yang dinyalakan seperti ikon, manekin yang berdiri dengan postur orang yang hidupnya sudah beres. Tidak ada satu pun kalimat khotbah di sana, dan justru itulah kekuatannya. Yang ditawarkan bukan barang, melainkan janji bahwa versi diri Anda yang lebih baik dapat dibeli, dan bahwa jarak antara Anda sekarang dan Anda yang seharusnya adalah jarak yang bisa diselesaikan dengan transaksi.
Kalau pembentukan bekerja seperti ini, ada konsekuensi yang tidak enak. Pemahaman yang benar tetap perlu. Tetapi pemahaman saja jarang cukup. Anda bisa sepenuhnya setuju secara teologis bahwa identitas Anda tidak ditentukan oleh angka di layar, dan tetap merasa hancur ketika unggahan Anda sepi. Yang perlu dilawan bukan hanya keyakinan yang salah, melainkan kebiasaan yang sudah lebih dulu menata keinginan. Dan kebiasaan hanya bisa dilawan oleh kebiasaan lain.
Di titik inilah ibadah hari Minggu berhenti menjadi kegiatan absen mingguan. Ia adalah kontra formasi. Satu jam yang secara sengaja mengerjakan sesuatu yang berlawanan arah dengan yang dikerjakan seratus enam puluh tujuh jam lainnya, termasuk oleh tujuh pagi yang sudah lewat sejak Minggu terakhir.
Yang Alkitab Berikan, dan Yang Ditinggalkannya untuk Gereja
Dalam Kolose 3:15-16 Rasul Paulus meminta agar damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati jemaat, dan agar perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara mereka, sehingga mereka saling mengajar dan menegur dengan mazmur, puji-pujian, dan nyanyian rohani.
Perhatikan apa yang ada di situ dan apa yang tidak ada. Unsurnya jelas: firman yang tinggal, nyanyian, pengajaran timbal balik, ucapan syukur. Tekniknya sama sekali tidak dirinci. Tidak ada urutan menit, tidak ada ketentuan alat musik, tidak ada arahan tentang berapa lagu sebelum khotbah.
Menurut Timothy Keller, mengisi ruang kosong itu adalah tugas gereja, dan tugas itu dikerjakan dengan kejelasan Injil sambil memperhatikan tradisi yang diwarisi, budaya setempat, kapasitas jemaat, serta preferensi mereka yang beribadah. Ini pekerjaan penggembalaan, bukan urusan selera pemimpin pujian. Kekosongan tadi bukan kelalaian Alkitab. Ia adalah ruang yang sengaja disediakan bagi hikmat, dan hikmat berarti keputusan-keputusan itu harus dipertanggungjawabkan, bukan diambil karena sedang tren.
Tiga Ukuran agar Ibadah Tidak Berubah Menjadi Pertunjukan
Karena ruang itu ada, ada juga risikonya. Tata ibadah bisa disusun untuk mengesankan, bukan untuk membentuk. Tiga ukuran berikut bukan perintah Alkitab, melainkan penilaian penggembalaan yang sudah lama terbukti berguna.
Yang pertama, ibadah perlu transenden. Bukan berarti megah atau mahal, melainkan bahwa orang yang memimpinnya sendiri sedang kagum, dan kekagumannya menular. Jemaat bisa merasakan bedanya antara pemimpin yang mengajak orang datang kepada Allah dan pemimpin yang sedang mengelola suasana ruangan.
Yang kedua, ibadah perlu sederhana. Ini artinya menahan diri dari manipulasi emosi. Nada yang sengaja dinaikkan pada bait terakhir, lampu yang diredupkan tepat pada saat yang direncanakan, musik latar yang terus mengalun di bawah doa supaya keheningan tidak pernah benar-benar terjadi. Semua itu bisa menghasilkan air mata, dan air mata bisa disalahartikan sebagai perjumpaan. Kesederhanaan adalah bentuk kepercayaan bahwa Roh Kudus tidak memerlukan bantuan teknis kita.
Yang ketiga, dan ini yang paling menentukan, ibadah perlu hidup. Artinya ibadah bukan panggung tempat kita memamerkan kebaikan agar akhirnya diterima. Urutannya justru terbalik dari yang kita duga. Kita datang sebagai orang yang sudah diterima melalui darah Kristus, dan seluruh nyanyian, persembahan, serta ketaatan kita adalah respons atas penerimaan itu. Kalau urutan ini dibalik, ibadah yang paling meriah sekalipun berubah menjadi kerja keras untuk membeli perkenanan yang sebenarnya sudah diberikan cuma-cuma.
Satu Jam yang Menceritakan Ulang Seluruh Kisah
Di pusat semua ini ada perjumpaan yang dinamis, bukan produksi acara. Allah Bapa tidak menunggu. Ia berinisiatif memanggil dan mengundang. Yesus Kristus hadir sebagai pengantara yang membuat pertemuan itu mungkin sekaligus mengubah orang yang datang. Roh Kudus menghidupkan firman di hati, lalu mengutus jemaat kembali ke luar.
Dinamika itu diorkestrasi dalam sebuah alur, dan alurnya bukan susunan lagu-lagu enak yang kebetulan cocok nadanya. Setiap minggu, tata ibadah menceritakan ulang kisah yang sama: penciptaan, kejatuhan, penebusan, pembaharuan, dan pemuliaan.
Bagian pembuka adalah panggilan. Persiapan, votum (pernyataan bahwa pertolongan kita datang dari Tuhan), dan introitus (nyanyian masuk yang mengantar jemaat ke hadirat-Nya) menegaskan bahwa yang memulai bukan kita. Perhatikan betapa berbedanya ini dari pukul enam pagi, ketika yang pertama berbicara kepada Anda adalah sebuah layar yang menunggu Anda membuktikan diri. Tetapi hampir bersamaan, kita berhadapan dengan kenyataan tentang diri sendiri, dan di situlah pengakuan dosa mendapat tempatnya yang eksplisit. Mazmur 32:1 menyatakan berbahagianya orang yang pelanggarannya diampuni dan dosanya ditutupi, dan 1 Yohanes 1:9 memberi janji bahwa jika kita mengaku dosa kita, Allah setia dan adil untuk mengampuni serta menyucikan. Dua kalimat itu menahan kita pada pandangan yang seimbang: kita memang serusak yang kita takutkan, dan tetap seberharga yang tidak berani kita harapkan.
Lalu masuklah babak penebusan. Persiapan firman, doa epiklese (permohonan agar Roh Kudus menerangi firman yang akan dibacakan), dan khotbah menarik perhatian jemaat kuat-kuat kepada kehidupan, kematian, serta kebangkitan Kristus. Bukan kepada tips, bukan kepada prinsip umum yang bisa diucapkan siapa saja, melainkan kepada peristiwa yang sudah terjadi di luar diri kita.
Bagian akhir adalah pengutusan. Jemaat merespons dengan persembahan, menerima pujian pengutusan dan berkat, lalu keluar. Tidak ada yang pulang dengan tangan kosong. Yang dibawa pulang adalah perlengkapan untuk Senin sampai Sabtu, untuk rumah yang berisik, untuk kampus, untuk kantor dan grup pesan yang tidak pernah berhenti berbunyi.
Perlu dikatakan dengan jujur bahwa satu Minggu tidak membongkar apa pun sampai habis. Besok pagi pukul enam, alarm akan berbunyi lagi, dan ibu jari Anda akan tetap menemukan layar. Pembentukan berjalan lambat, seperti air yang membentuk batu, dan itulah justru alasan mengapa ia harus berulang. Kekuatan liturgi tidak terletak pada intensitas satu kejadian, melainkan pada kesetiaan pengulangannya selama bertahun-tahun. Yang sedang dipertaruhkan bukan satu pagi, melainkan ke arah mana ribuan pagi itu perlahan membentuk Anda.
Kalau semua ini benar, yang berubah bukan seberapa keras Anda berusaha khusyuk hari Minggu ini. Yang berubah adalah cara Anda memandang satu jam itu. Bukan kewajiban yang harus dituntaskan, melainkan ruang di mana sesuatu sedang dikerjakan atas Anda, oleh Allah yang lebih dulu memanggil, lebih dulu mengampuni, dan lebih dulu menerima. Anda tidak perlu datang dengan hati yang sudah siap. Justru ke sanalah hati yang belum siap dibawa.
