Esai CCM · Roma 8
Tidak Ada yang Menderita dengan Tangan Kosong
Penderitaan datang tanpa diundang, dan itu bukan salah Anda. Tetapi tidak ada seorang pun yang memasukinya tanpa membawa apa-apa dari sebelumnya. · 6 menit baca

Hasil laboratorium yang dibaca ulang dua kali karena angkanya tidak masuk akal. Telepon dari kantor pada Selasa sore yang biasa saja. Pesan yang masuk pukul tiga pagi, mengabarkan bahwa seseorang sudah pergi. Tidak ada satu pun dari peristiwa itu yang Anda jadwalkan, dan tidak ada satu pun yang Anda undang.
Karena itu ada satu kalimat yang pantas ditolak mentah-mentah oleh siapa pun yang sedang sakit, yaitu kalimat bahwa penderitaan sebenarnya hanya soal cara pandang. Nyeri itu nyata. Rasa dingin dan takut saat berbaring di meja operasi itu nyata. Kehilangan pekerjaan pada usia empat puluh dengan dua anak yang masih sekolah bukan persoalan sikap hati. Orang yang menghibur Anda dengan mengatakan bahwa semua ini sebenarnya ada di kepala Anda biasanya sedang tidak menanggung apa-apa.
Tulisan ini tidak akan meminta Anda menganggap sakit Anda lebih ringan daripada yang sebenarnya. Tetapi ada satu kenyataan lain yang sama benarnya, dan kenyataan ini jarang disebut karena tidak enak didengar. Tidak ada seorang pun yang memasuki penderitaan dengan tangan kosong. Kita selalu menyeret sesuatu ke dalamnya.
Yang Sudah Ada di Tangan Sebelum Kesulitan Itu Datang
Pada masa pandemi, ketika hampir semua orang di sekitar saya sedang mencemaskan penularan, saya justru menghabiskan berbulan-bulan berurusan dengan batu ginjal. Bolak-balik ke rumah sakit, beberapa kali masuk ruang operasi, memulihkan diri setelahnya, dan di sela-sela semua itu menghitung berapa yang harus dibayar. Penyakitnya sendiri sudah cukup menyakitkan. Tetapi yang lebih menyakitkan ternyata adalah apa yang saya bawa ke dalamnya, dan saya sama sekali tidak menyadari sedang membawanya.
Saya membawa sebuah keyakinan diam-diam bahwa saya akan tetap sehat. Keyakinan itu punya dasar yang terasa masuk akal, sebab saya rajin berolahraga dan menghindari hal-hal yang jelas merusak. Ketika sakit itu datang, yang tercabut bukan hanya kesehatan saya, melainkan sesuatu yang selama bertahun-tahun diam-diam saya andalkan di samping Kristus dan tidak pernah saya sebut sebagai andalan.
Ini yang perlu dipahami dengan hati-hati, karena mudah sekali disalahmengerti. Penderitaan tidak mengubah hati kita. Ia menyingkapkannya. Apa yang muncul ke permukaan pada bulan-bulan tersulit dalam hidup seseorang bukanlah sesuatu yang baru terbentuk di sana. Itu sudah ada di sana sepanjang waktu, hanya saja belum pernah ada tekanan yang cukup besar untuk membuatnya terlihat. Karena itu, ketika penderitaan membuat kita menemukan hal-hal yang mengejutkan tentang diri sendiri, itu bukan tanda bahwa kita gagal menderita dengan benar. Itu tanda bahwa kita sedang melihat sesuatu yang selama ini tertutup.
Tradisi hikmat dalam Alkitab sudah lama mengerti hal ini. Amsal 4:23 meminta kita menjaga hati dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Hati di sini bukan berarti perasaan, melainkan pusat tempat sikap, pilihan, dan reaksi kita berhulu. Kalau begitu, memeriksa apa yang kita bawa bukanlah tugas tambahan di atas penderitaan yang sudah berat. Itu justru cara agar penderitaan tidak diperberat oleh hal-hal yang sebenarnya bisa diletakkan.
Gambar tentang Allah yang Kita Bawa Masuk
Yang paling berat di antara semua bawaan itu adalah gambaran kita tentang Allah, sebab gambaran itu menentukan ke mana kita berlari ketika keadaan memburuk.
Setiap orang hidup dalam kerangka teologi tertentu, entah ia menyebutnya begitu atau tidak. Kita semua punya jawaban yang tersimpan diam-diam atas pertanyaan siapa Allah, apa yang Ia lakukan, dan bagaimana Ia memperlakukan orang seperti saya. Jawaban itu jarang diucapkan. Tetapi ia bekerja, dan ia bekerja paling keras justru ketika kita sedang tidak punya tenaga untuk memeriksanya.
Salah satu bentuknya yang paling umum berbunyi begini: saya mengalami ini karena Allah sedang menghukum saya. Kadang ia hadir sebagai kalimat utuh, lebih sering sebagai perasaan samar bahwa ada utang yang sedang ditagih. Perhatikan apa yang dilakukan keyakinan ini pada seseorang yang sudah kelelahan. Ia membuat berlari kepada Allah terasa mustahil, sebab bagaimana mungkin kita mencari perlindungan pada pihak yang kita sangka sedang memukul kita.
Roma 8:1 menutup kemungkinan itu dengan kalimat yang sangat pendek:
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.
Roma 8:1
Bukan lebih sedikit penghukuman, dan bukan penghukuman yang ditunda. Tidak ada. Rasa bersalah, rasa malu, dan hukuman atas dosa kita sudah ditanggung sekali untuk selamanya. Artinya, apa pun yang sedang terjadi pada Anda, ia bukan tagihan. Penderitaan bisa membentuk, bisa menyingkapkan, bisa menghancurkan hal-hal yang memang perlu dihancurkan dalam diri kita, tetapi di dalam Kristus ia tidak pernah berfungsi sebagai hukuman.
Harapan yang Tidak Pernah Kita Ucapkan
Bawaan berikutnya lebih halus, sebab bentuknya adalah harapan, dan harapan terdengar seperti sesuatu yang baik.
Saya membawa satu harapan yang tidak pernah saya ucapkan tetapi sangat saya pegang, yaitu bahwa melayani Tuhan memberi semacam jaminan. Bukan jaminan kaya atau sukses, hanya jaminan yang lebih sederhana dan menurut saya waktu itu sangat masuk akal: bahwa Tuhan setidaknya tidak akan menginterupsi hidup ini dengan hal-hal yang tidak saya minta. Harapan itu tidak pernah dijanjikan kepada siapa pun. Tetapi ia terasa adil, dan hal-hal yang terasa adil paling sulit dilepaskan.
Dalam Roma 8:20-22 Paulus menggambarkan dunia yang lain sekali dari dunia dalam harapan itu. Seluruh ciptaan, katanya, ditundukkan kepada kesia-siaan dan terikat pada kebinasaan, dan seluruh ciptaan itu mengeluh serta merasa sakit seperti perempuan yang hendak melahirkan. Ini bukan gambaran dunia yang sesekali bermasalah. Ini gambaran dunia yang sedang rusak sampai ke akarnya sambil menunggu dipulihkan. Tubuh menua, persahabatan mengecewakan, pernikahan bisa mendingin, gereja bisa terluka, pemerintahan bisa membuat naik darah. Semua itu bukan penyimpangan dari keadaan normal. Untuk sementara ini, itulah keadaan normal.
Ada harapan lain yang bekerja dengan cara serupa, yaitu harapan yang kita letakkan pada orang. Penderitaan menjadi jauh lebih berat ketika seseorang yang kita tempatkan sangat tinggi ternyata tidak hadir seperti yang kita bayangkan. Orang itu sering kali tidak sedang berbuat jahat. Ia hanya sedang menjadi manusia, di posisi yang tidak pernah dirancang untuk ditempati manusia.
Menerima semua ini bukan bentuk pesimisme, dan tujuannya sama sekali bukan menakut-nakuti. Justru sebaliknya. Orang yang sudah jujur mengakui bahwa dunia ini memang rusak tidak akan hancur dua kali ketika kerusakan itu tiba, sekali oleh peristiwanya dan sekali lagi oleh keterkejutannya.
Tempat Rasa Aman Itu Sebenarnya Diletakkan
Tiga hal terakhir yang kita bawa sebenarnya adalah satu hal yang sama, hanya berganti pakaian.
Ada kebanggaan akan kemandirian, keyakinan bahwa saya bisa mengurus hidup saya sendiri. Ada rasa aman yang bersandar pada hal-hal yang bisa dipegang, seperti rumah, tabungan, pekerjaan, atau tubuh yang masih kuat. Dan ada kebiasaan lama meletakkan diri sendiri di pusat, sehingga segala sesuatu dinilai dari bagaimana ia memperlakukan saya. Ketiganya adalah cara yang berbeda untuk menaruh berat hidup pada sesuatu yang tidak sanggup menahannya.
Kita memang membutuhkan tabungan dan pekerjaan, dan tidak ada yang rohani dari mengabaikannya. Persoalannya bukan memiliki, melainkan bersandar. Penderitaan menyingkapkan perbedaan itu dengan cara yang tidak bisa dibantah, sebab ia mencabut satu per satu hal yang kita sangka menopang kita, dan memperlihatkan apa yang tersisa ketika semuanya sudah dicabut. Paulus menulis bahwa Kristus mati supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Dia yang telah mati dan dibangkitkan bagi mereka (2 Korintus 5:15). Kalimat itu bukan teguran. Itu deskripsi tentang hidup yang beratnya akhirnya diletakkan di tempat yang benar.
Jadi, periksalah apa yang sedang Anda genggam. Bukan supaya Anda punya satu pekerjaan tambahan di tengah keadaan yang sudah berat, dan bukan supaya Anda menderita dengan lebih baik. Pemeriksaan itu tidak akan menyembuhkan apa pun. Ia hanya meringankan, dan meringankan saja sudah banyak.
Sebab yang menentukan pada akhirnya bukan seberapa rapi Anda membereskan isi hati Anda. Allah yang menciptakan dunia ini dan memerintahnya dengan hikmat, kebenaran, dan kasih sudah ada di dalam Anda, bersama Anda, dan bagi Anda, jauh sebelum Anda sempat memeriksa apa pun. Anda memang tidak memasuki penderitaan dengan tangan kosong. Tetapi Anda juga tidak memasukinya sendirian, dan tidak ada kuasa, tidak juga penderitaan yang paling berat sekalipun, yang sanggup memisahkan Anda dari kasih-Nya.
