GKMI

11/15/2022

Melayani Dengan Empati

Roma 12:15-16 - "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!”

Kehidupan orang yang berkomitmen untuk melayani Tuhan adalah kehidupan yang harus memancarkan terang bagi sekelilingnya. Alkitab menggambarkan  seperti sebuah pelita yang diletakkan "...di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu." (Mat 5:15). Jika tidak akan banyak berguna bagi orang lain.

Ada banyak orang yang mengeluh dan kecewa ketika melihat orang Kristen (apalagi mereka yang sudah banyak terlibat dalam pelayan)  yang dalam kehidupan sehari-harinya tidak menunjukkan sifat atau karakter Kristus. Padahal Alkitab menegaskan, "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yoh 2:6). Harus kita akui, banyak orang Kristen yang jika berada di gereja mereka tampak begitu rohani, tapi ketika berada di tengah-tengah dunia, mereka sama sekali tidak menampakan kepedulian dengan orang lain. Kasih mereka menjadi sangat dingin. Jika demikian, apa bedanya mereka dengan orang-orang yang belum percaya? Padahal Tuhan Yesus telah memberikan teladan hidup yang luar biasa, Ia datang "...bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mrk 10:45).

Namanya melayani Tuhan, berarti tugas kita adalah melayani seperti Tuhan Yesus melayani,  karena hati Yesus selalu dipenuhi belas kasihan dan empati terhadap orang lain. Namun kita seringkali dengan sengaja menghindar dan menjauhi orang lain karena kita tidak mau berkorban dan direpotkan. Mengasihi orang lain atau memiliki kepedulian terhadap orang lain tidak harus berkorban secara materi. Salah satu wujud kasih kepada orang lain adalah kerelaan kita mendengar ungkapan hati mereka, belajar menjadi pendengar yang baik untuk setiap keluh kesah mereka.

Jadi permulaan kasih kepada sesama dimulai dari belajar berempati. Empati berasal dari kata Empatheia  yang memiliki arti ‘ikut merasakan’. Empati adalah sebuah keadaan, dimana seseorang merasakan pikiran, perasaan, atau keadaan yang sama dengan orang lain.  Mendengarkan; dan kemauan untuk mendengar dengan ketulusan adalah syarat utama yang dibutuhkan. Dengan belajar mendengar ungkapan hati orang lain kita sedang mendisiplinkan diri untuk belajar melayani sesama kita dengan kasih dan empati.

Marilah kita melayani sesama kita dengan kasih dan empati, seperti apa yang Kritus sudah lakukan terlebih dahulu kepada kita, Amin.


Pembacaan GEMA PL hari ini:

Yeh 31-32


Pokok Doa:

1. Berdoa bagi perubahan cuaca yg sekarang sudah terjadi kiranya kita dijauhkan dari bahaya.

Bagikan

Lainnya