GKMI

11/24/2022

Belum Saatnya

Yesaya 64:8 - “Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.”

Jemaat yang dikasihi Tuhan, ijinkan kali ini saya menyampaikan renungan dalam bentuk cerita. Di sebuah toko yang menjual berbagai set perlengkapan makan, ada barang-barang pilihan yang ditempatkan.

Semua yang dipajang di situ bagus-bagus, namun ada sebuah poci the yang menarik perhatian para pengunjung. Setiap orang yang melewati toko tersebut umumnya akan menghentikan langkahnya di depan etalase untuk sekedar menikmati keindahan poci teh itu.

Apa yang membuat poci teh itu begitu menarik perhatian ? Ternyata selain poci teh itu cantik, memiliki warna yang sangat indah, poci teh itu bisa berbicara. Apa yang ia bicarakan ? teh poci itu berkata begini, “Aku sebenarnya dahulu tidak memiliki keindahan seperti ini. Dahulu orang sama sekali tidak tertarik dengan diriku karena aku hanyalah sebongkah tanah liat. Kemudian sang penjunan (ahli membuat tembikar) itu datang, mengambilku, memijat-mijat aku dengan keras sehingga dalam kesakitan aku berkata, “Hei, apa yang kau lakukan terhadapku ? Sakit, tahu gak! Tinggalkan aku sendiri!” Ia hanya tersenyum tipisnya sambil berujar, “belum saatnya.” Kemudian ia meletakkanku di sebuah meja, memutar-mutar aku sehingga membuat aku pusing. Akupun protes dengan berkata, “Ini ngapain sih ? Stop! Stop!” Lagi-lagi ia berkata, “Belum saatnya.”

Aku sempat bernafas lega ketika akhirnya ia berhenti memijat-mijat dan memutar-mutarku. Entah mengapa ia berhenti “mencari gara-gara dengan aku”, barangkali ia sudah menyerah dengan diriku, demikian pikirku. Namun tiba-tiba suatu hari ia kembali mengambilku dan kali ini memasukkanku ke dalam sebuah tungku perapian yang sedang menyala. “Aduh! panas sekali! Tolong! keluarkan dari sini!” Demikian teriakku merasakan sakit yang tak tertahankan itu. “Tidakkah engkau sayang padaku ? Mengapa engkau meninggalkanku di sini ?” Dalam hati kecilku, aku tahu bahwa ia tidak jauh dariku dan ia mendengarkan teriakku minta tolong. Dari lubang kaca tungku itu aku melihat sesekali ia melongokkan wajahnya, namun mengapa ia tidak segera mengeluarkanku dari sini ? 

Akhirnya … ia mengeluarkanku dari tungku itu. Ia meraih sebuah benda dan mencelupkannya ke dalam cairan berwarna biru kemudian menyapukannya ke tubuhku. Aku tak paham mengapa ia perlu melumuri sekujur tubuhku sehingga basah dan lengket. “Ah, sudahlah tak mengapa” gumamku, “yang penting semua penderitaanku sudah selesai.” Tapi tanpa kusangka, ia kembali memasukkanku ke tungku itu untuk kedua kalinya! Alamak, apa salahku ? Mengapa aku harus mengalami ini lagi ? Sama seperti yang pertama, ia melongokkan wajahnya, dan dari sorot aku tertegun karena matanya seolah berkata, “Belum saatnya, sabarlah … sedikiiiit lagi.”

Akhirnya iapun mengeluarkanku dari tungku itu, mendinginkanku dan ia menaruh aku di depan sebuah cermin. Betapa terkejutnya diriku! Aku tidak lagi menjadi hanya sebongkah tanah liat, namun sang penjunan itu telah mengubahkanku menjadi sebuah poci teh yang begitu indah dan tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku membayangkan, seandainya ketika itu ia menuruti kemauanku kemudian berhenti memijatku, memutarku dan mengeluarkanku sebelum saatnya, tentu aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Ia telah menjadikanku istimewa dan kini ia menempatkanku di tempat dimana semua orang dapat melihat keindahanku.


Pembacaan GEMA PL hari ini:

Yeh 47-48


Pokok Doa:

1. Doakan untuk lonjakan kasus covid19 yang kembali terjadi kiranya masyarakat sungguh sadar untuk menerapkan prokes dengan ketat.

Bagikan

Lainnya