GKMI

9/23/2022

Kebaikan Hati

Efesus 4:31-32 - "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu."

Jika kita ditanya, “Hal apakah yang paling menarik dalam diri seseorang, terlepas dari jenis kelamin, usia maupun status sosialnya ?” Apakah penampilan, cara berpakaian, ketampanan atau kecantikan ? Ya, bisa jadi hal-hal tadi membuat seseorang menjadi menarik, namun menurut sebuah survey pada tahun 2003 yang dilakukan terhadap 16 ribu responden dari 37 budaya dan golongan usia berbeda, hal yang paling menarik dalam diri seseorang adalah kebaikan hatinya, bukan penampilan fisik, intelektual dan berbagai kelebihan lainnya.

Meskipun kebaikan berasal dari hati, namun baru akan dapat berdampak bagi orang lain ketika kebaikan itu muncul ke luar melalui ucapan dan tindakan. Seorang yang baik hati akan memperlakukan orang lain dengan santun, tulus dalam menjalin pertemanan, setia kepada pasangannya, menghormati orang tuanya dan orang lain yang lebih tua darinya, bukan atas dasar mencari pujian atau penghargaan melainkan karena hatinya yang baik. Tentu semua kita senang memiliki teman seperti ini, bukan ?

Kepada orang percaya di Efesus, Paulus sebagai bapak rohani memerintahkan kepada anak-anak rohaninya untuk membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah yang terjadi di antara mereka. Hal ini ia ungkapkan justru ketika dirinya dalam kondisi terpenjara di Roma. Bukankah seharusnya rasul Paulus lebih punya alasan untuk bersikap negatif seperti itu dengan semua perlakuan jahat dan tidak adil yang ia sudah terima di penjara Roma ? Namun di dalam penjara yang dingin dan pengap itulah, Paulus justru memberi nasehat, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (ay. 32).

Sebagai pribadi yang ada di dalam Kristus, menjadi ciptaan baru (2 Kor. 5:17) kita tidak seharusnya hidup dalam dua dunia yang saling bertentangan. Kita ramah terhadap si A, namun bertikai dengan si B. Kita harus menetapkan diri untuk teguh hidup dalam kebenaran. Kita juga harus berhenti menyalahkan kondisi di sekitar kita sebagai penyebab kegagalan untuk taat kepada Tuhan. Karyawan menyalahkan kemacetan di jalan sehingga terlambat ngantor, pasutri menyalahkan pasangannya sebagai penyebab kejengkelannya, murid menyalahkan guru yang dianggap tidak bisa mengajar dengan baik sehingga ia gagal dalam ujian, demikian pula anak-anak muda menyalahkan kuota internet yang menyebabkannya terikat dalam pornografi.

Kristus sudah menjadi teladan kebaikan hati, ketaatan kepada Bapa dalam seluruh aspek kehidupannya. Dan kini, kehidupan Kristus itu terbukti telah menarik begitu banyak orang, termasuk anda dan saya untuk mengikuti Dia bukan ? Makanya, mari kita belajar untuk tidak menyimpan lagi segala bentuk dosa dalam hidup kita dan sebagai gantinya ialah hidup dalam kasih terhadap sesama dan Tuhan.


Pembacaan GEMA PL hari ini:

Yes. 42-43


Pokok Doa:

1. Doakan untuk Indonesia dan dunia khususnya ancaman krisis energi dapat tertangani dengan baik.

Bagikan

Lainnya